Kamis, 25 Juni 2020

Dialog Inspiratif DKC Bojonegoro Dengan Dewan Kerja Nasional

TEMA: KADERISASI DI TENGAH PANDEMI
          Hari ini, Rabu 24 Juni 2020 Dewan Kerja Cabang Bojonegoro melakukan live on instagram bersama Dewan Kerja Nasional Kak Andi Saribulan S dalam kegiatan “Ngobrol Inspiratif” berbasis online dengan mengambil tema “Kaderisasi di Tengah Pandemi. Kegiatan diikuti oleh kakak-kakak dari DKR, Saka, dan Gudep, baik dari dalam maupun luar kabupaten Bojonegoro.
Covid-19 sangat luar biasa. Semua aktivitas hampir lumpuh, termasuk organisasi Pramuka. Berbicara tentang organisasi, tidak akan lepas dengan yang namanya kaderisasi.
Setiap organisasi harus memiliki yang namanya kader. Kader tersebut menurut Kak Bulan seperti pelatihan. Dalam pelatihan kita harus mengikuti dan menerapkan, insyaAllah kaderisasi akan berjalan. Dulu, kaderisasi bisa dikatakan dengan fisik. Akan tetapi sekarang, setelah tidak adanya fisik di dalam kaderisasi, terlihat jelas bahwa antara junior dan senior tidak ada sekat, bahkan tidak ada rasa menghormati.
Menurut Kak Bulan, kaderisasi sangat penting contohnya saja di Dewan Kerja. Di Dewan Kerja ada yang namanya masa bhakti, dimana waktu kita terbatas tidak akan selamanya ada atau eksis di Dewan Kerja . Oleh karena itu, kader harus dipersiapkan dari sekarang sebagai salah satu tanggungjawab kita untuk mempersiapkan kader terbaik. Dalam kondisi seperti ini, ada kemungkinan kegiatan – kegiatan tertunda walaupun masa bhakti terus berjalan.
Apakah termasuk tantangan atau hambatan kaderisasi di tengah pandemi seperti ini? Kaderisasi di saat ini merupakan tantangan untuk kita semua. Kegiatan yang biasanya di lakukan secara tatap muka, sekarang bisa di lakukan secara lebih variatif seperti dengan virtual. Karena sebenarnya setiap masa ada hambatan/tantangannya masing-masing. Akan tetapi, tantangan tersebut biasanya menyesuaikan dengan anggota Dewan Kerja baru, dengan pemikiran Pengurus Kwartir yang baru. Namun untuk saat ini, tantangannya tidak terlihat seperti Covid-19 ini.
Langkah apa yang harus dilakukan ketika masa bhakti Dewan Kerja selesai di tengah pandemi? Menurutnya, langkah pertama adalah harus di bicarakan dulu dengan internal, selebihnya kita berbicara dengan Kwartir untuk meminta saran. Karena terkadang, kita purna dengan tidak menyelesaikan program kerja itu rasanya kurang dari hati. Jadi bisa juga kondisional, karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Jadi mau tidak mau kita harus mempersiapkan kader untuk selanjutnya bertanggung jawab atas program kerja kita yang belum terlaksana tersebut karena masa bhakti kita yang sudah selesai. Namun harus tetap konsultasi dengan Kwartir
Di tengah pandemi seperti ini, memang memungkinkan kita untuk memaksimalkan, media online. Namun kondisinya terganggu untuk jaringannya. Bagaimana solusinya? Kalau memang untuk pengkaderan, kita harus berusaha terlebih dahulu. Sama halnya ilmu, kita harus menimba dan menjemputnya. Yang harus di ingat, kita adalah Gerakan Pramuka yang bisa beradaptasi dimana saja seperti halnya tunas kelapa yang bisa hidup dimana saja. Jadi masalah jaringan jangan dibuat hambatan. Intinya “Jangan jadikan kelemahanmu sebagai hambatan, jadikanlah itu sebagai semangatmu”.
Kegiatan real apa yang bisa kita lakukan agar kaderisasi kita terus berjalan? Saat pandemi seperti ini, kegiatan yang bisa kita lakukan mau tidak mau harus berbasis online. Tetapi di beberapa daerah yang sudah New Normal bisa menyesuaikan dengan daerahnya masing – masing, berkegiatan seperti biasanya dengan harus mematuhi protokol kesehatan. Sedangkan untuk daerah yang grafik penyebarannya masih naik setiap hari, kita harus menunggu sampai kondisi membaik. Disaat kita mau mengabdi kepada organisasi, kita harus egois terhadap diri pribadi terlebih dahulu walaupun sebenarnya kita harus mendahulukan kepentingan organisasi sebelum kepentingan pribadi. Namun kondisi sekarang berbeda dengan biasanya. Perlu kita pahami, setiap daerah pasti kondisinya berbeda dan culture pun berbeda.
Bagaimana cara merawat anggota yang tidak aktif di Dewan Kerja? Menurutnya kita harus melakukan yang pertama pendekatan pribadi kepada yang bersangkutan, karena pasti anggota tersebut memiliki alasan sehingga tidak dapat aktif di Dewan Kerja, entah itu alasannya karena keluarga, finansial, ataupun yang lain. Yang kedua adalah menanyakan keinginannya seperti apa, selanjutnya kita bisa kolaborasikan keinginannya dengan keinginan teman – teman yang lain. Yang perlu di catat adalah, jangan sampai kita mengorbankan anggota yang aktif hanya untuk 1 anggota yang tidak aktif.
Langkah awal apa yang dilakukan untuk kaderisasi di saat New Normal? Mengumpulkan teman – teman, menyamakan misi, melihat keinginan teman dalam berkeinginan menjadi pemimpin. Kenapa saya tidak menyebutkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki seseorang, karena memang kemampuan dan keahlian itu menurut saya bisa di asah, bisa di pelajari. Jadi kemampuan dan keahlian tidak bisa di jadikan patokan untuk mencari kader. Dan menurut orang – orang, yang paling penting adalah attitude.
Apakah kegiatan nasional tidak bisa dilaksanakan secara online? Kegiatan nasional tahun ini di tunda. Karena setiap kegiatan pasti ada goals yang ingin di capai. Kalau kita memaksakan untuk melaksanakan secara online, apakah esensi dari “kemah” itu terpenuhi.
Dewan Kerja seperti apa yang disebut dengan Dewan Kerja ideal? Dewan Kerja yang melakukan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) dengan baik. Tupoksi Dewan Kerja sendiri adalah menyusun, merencanakan, memikirkan, melaksanakan, melaporkan, dan mengevaluasi. Dari semua itu, yang paling penting adalah mengevaluasi. Karena di bagian evaluasi kita bisa mencacat apa yang menjadi kekurangan kita dalam melaksanakan kegiatan, dan sebagai bahan perbaikan di kegiatan selanjutnya.

*) Oleh : Dewi Maria Ulfa (Wakil Ketua DKC Bojonegoro)




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Dadik Hermawan, Published at 20.48 and have 0 komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar